Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa

Sebuah buku spektakuler tentang analisa kehancuran Amerika dan Eropa di akhir zaman dari berbagai sudut pandang : empiris, historis, sosial, ekonomi, dan nubuwah akhir zaman.

Di saat Uni Soviet yang mengusung komunisme tumbang, Perang Dingin berakhir, maka Amerika tampil sebagai negara super power yang menentukan hitam putihnya dunia.

Di saat sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme diterima oleh lebih dari 90 % negara di dunia.

Di saat 95 % negara anggota PBB mendukung Amerika dan sekutunya dalam memerangi Islam dan kaum muslimin melalui sandi operasi ‘perang global melawan terorisme’.

Di saat Amerika dan sekutu-sekutunya melanggar aturan internasional, dan melakukan invasi militer kepada dua negara yang paling miskin dan lemah di dunia, Afghanistan dan Irak, tanpa ada satu negara pun yang mampu mencegah dan menghukumnya.

Di saat Amerika Serikat terus memimpin sekutu-sekutunya dari Eropa Barat, Australia, Jepang, dan Korea Selatan untuk menuruti semua kehendaknya

Di saat Amerika telah menjelma bagaikan bangsa Mesir pada zaman Fir’aun, yang menginginkan bangsa-bangsa lain menghamba kepada mereka, mengikuti agama mereka, menyembah thagut, dengan cara memeras, menakut-nakuti, menyiksa, bahkan melenyapkan mereka.

Di saat Amerika tampil mengangkangi segala negara dan lembaga di dunia, tak terkecuali PBB, yang dengan leluasanya Amerika bisa berbuat semaunya tanpa ada seorang pun dan sebuah negara pun yang bisa mencegah dan menghukumnya.

Di saat seluruh dunia menerima klaim Amerika sebagai pusat peradaban, ekonomi, penegakan HAM, Demokrasi dan standar tunggal gaya hidup manusia.

Di saat Amerika menjadi tolok ukur dalam seluruh makna keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia.

Bisakah Anda mempercayai penjelasan orang yang menyatakan bahwa Amerika dan sekutunya tengah berada di ambang keruntuhannya? Dapatkah Anda membenarkan klaim yang menyatakan bahwa negeri itu tengah di ujung jurang kebinasaannya? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah para tokoh politik, ekonomi, budaya dan cendekiawan Amerika dan Eropa sendiri? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah para ilmuwan dan ulama muslim? Bahkan, ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih?

Amerika adalah sebuah negara adidaya yang ekonominya 100 % berbasis sistem ribawiyah-spekulatif (Kapitalisme) dan merupakan penghela utama peradaban Barat-modern. Banyak sekali orang yang tersihir oleh kehebatan teknologi negeri itu, terpesona oleh kekayaannya yang luar biasa, sehingga sama sekali tidak mengira bahwa sebenarnya negara adidaya itu tengah memasuki hari-hari terakhirnya, insya Allah. Buku ini mengungkapkan kenyataan sebenarnya yang tengah dihadapi negeri adidaya itu. Seluruh persyaratan untuk terjadinya sebuah kehancuran total telah terpenuhi oleh negeri ini; ekonomi, politik, militer, sosial, demografi, moralitas, termasuk nubuwat akhir zaman.

Dari sisi ekonomi, negeri produsen dolar ini telah berubah dari lintah darat menjadi korban lintah darat terbesar di dunia sejak pertengahan tahun 1986 – dimulai pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagen. Perubahan status ini bermula dari pengeluaran anggaran yang luar biasa besar bagi pembiayaan Proyek Perang Bintang (Strategic Defense Initiative) dan Kampanye Penghancuran Uni Soviet. Uni Soviet memang akhirnya hancur, akan tetapi dengan ongkos yang membuat Amerika sendiri menjadi limbung dan menuju status sekarat! Utang total pemerintah Amerika bertambah praktis secara eksponensial, dan per April 2007, utang tersebut telah melewati US$ 8,9 trilyun (ikuti terus statusnya pada situs “US National Debt Clock”) dan terus bertambah dengan besarnya bunga yang harus dibayar setiap tahun melewati angka US$ 300 milyar yang nilainya semakin bertambah pula seiring dengan semakin meningkatnya utang pokok dan suku bunga pinjaman.

Dengan akumulasi utang bangsa Amerika per 2007 (jumlah utang pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan rumah tangga) sebesar lebih kurang US$ 48 trilyun (dengan kurs 1 US$ = Rp. 9000,- nilainya akan setara dengan kira-kira Rp. 432.000 trilyun, baca: empat ratus tiga puluh dua ribu trilyun rupiah!), secara teoritis, jika Bank Sentral Jepang dan atau Cina dan atau sejumlah investor lainnya (cukup salah satu saja yang beraksi, lainnya akan segera mengikuti) memutuskan menarik seluruh investasinya keluar Amerika, maka akan terjadi suatu gempa moneter yang luar biasa hebat, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia, di Amerika dengan episentrumnya terletak pada dua tanduk syaitannya, yaitu bursa saham dan pasar uangnya. Gempa moneter raksasa ini selanjutnya akan menimbulkan gelombang tsunami moneter yang luar biasa dahsyat yang menjalar ke seluruh penjuru dunia!

Banyak analisa para pakar ekonomi yang telah meramalkan kehancuran Amerika dari sudut pandang ini. Pada 23 Januari 2005, Jas Jain, salah seorang analis ekonomi terkemuka telah menulis, “Depresi yang lebih Besar (Greater Depression) adalah tak terhindarkan. Semakin tinggi kita mendaki tangga utang, semakin dalam ekonomi Amerika akan jatuh selama Depresi yang lebih Besar yang akan datang.

Pada Maret 2005, Stephen Roach, seorang kepala ahli ekonomi pada lembaga keuangan Morgan Stanley di Boston mengatakan, bahwa ia percaya peluangnya adalah 90% (yang menunjukkan sudah sangat dekat kepada kepastian!) bahwa utang yang gila-gilaan ini pada akhirnya akan membawa pada kehancuran ekonomi!

Pada 24 September 2005, Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika, mengungkapkan kepada sejawatnya Thierry Breton, Menteri Keuangan Perancis, bahwa Amerika Serikat telah kehilangan kendali atas defisit anggarannya. Selanjutnya Breton berkata, “Situasi yang menciptakan tekanan saat ini pada pasar uang adalah jelas defisit Amerika.” Ia juga mengungkapkan, “Nampak bagi saya bahwa sejawat saya John Snow (Menteri Keuangan Amerika, penj.) sepenuhnya sadar akan hal ini, ia ingin mengatasi masalah ini, tetapi nampaknya ia tidak mempunyai ruang yang cukup untuk bermanuver.”

Dari sisi politik dan militer, kehancuran Amerika juga tinggal menunggu waktu. Perang yang dikobarkan oleh Amerika di negeri-negeri muslim telah mendapat kecaman internasional dan kerugian yang cukup besar. Hingga awal 2007, perang Irak dan Afganistan telah merenggut nyawa lebih dari 4000 orang tentara Amerika, dan lebih dari 50.000 tentara mengalami cedera. Semula Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon, berusaha mengecilkan jumlah prajurit yang cedera menjadi 24.000 orang. Akan tetapi Dr. Linda Bilmes telah mengejutkan publik Amerika dengan membocorkan angka yang sebenarnya, yaitu berkisar 50.000 prajurit yang membuat Pentagon kebakaran jenggot. Angka ini tidak dapat disanggah oleh Pentagon karena dikutip oleh Dr. Bilmes dari Departemen Urusan Veteran Amerika yang terbebas dari pengaruh Pentagon. Sejauh ini lebih dari 200.000 veteran telah dilayani di VA centers (Pusat-pusat Urusan Veteran), dan terdapat antrian klaim pelayanan medis dari 400.000 veteran. Jumlah klaim diperkirakan akan mencapai 874.000 pada 2007, dan 930.000 pada 2008.39 Dari total prajurit yang cedera, sekitar 50% mengalami cacat permanen yang membuatnya tidak dapat bertugas kembali sehingga setara dengan kematian. Celakanya, tentara yang cacat ini malah membebani pemerintah Amerika dengan biaya perawatan seumur hidup yang jauh lebih besar dari pada kompensasi bagi keluarga prajurit yang tewas. Sebagai contoh, keluarga dari seorang prajurit yang tewas akan mendapatkan bantuan sebesar US$ 500.000, sedangkan seorang prajurit yang menderita cedera permanen di otaknya akan memerlukan biaya perawatan sekitar US$ 4 juta..

Faktor penting lainnya yang juga menambah/mempercepat kemungkinan kehancuran Amerika adalah datangnya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti angin topan yang menghantam kota New Orleans yang terletak di wilayah Teluk Meksiko pada akhir Agustus 2005. Bencana tersebut telah membuat Kongres Amerika segera meluluskan permintaan bantuan sebesar US$ 10 milyar sebagai uang muka, sementara sebuah perkiraan telah menyebutkan bahwa dibutuhkan dana sebesar US$ 200 milyar guna merestorasi semua kerusakan, suatu nilai yang setara dengan perang selama empat tahun di Irak dan Afganistan.

Belum genap sebulan setelah bencana alam akibat angin topan yang demikian merusak tersebut, datang lagi angin topan kedua yang menghantam wilayah yang sama, yang menimbulkan kerusakan dan banjir secara meluas. Belum genap sebulan setelah topan kedua, datang lagi topan ketiga. Barangkali saja sudah menunggu angin-angin topan lainnya yang akan terus menghantam daratan Amerika.

Rentetan bencana tersebut telah menghancurkan sebagian infrastuktur energi Amerika; 108 anjungan pengeboran minyak rusak dan tidak mungkin dibangun kembali, demikian juga kerusakan pada sarana penyulingan minyak yang menurunkan kapasitas operasinya menjadi 70%. Bencana tersebut juga telah mengakibatkan 363.000 orang menjadi penganggur, dan menimbulkan gelombang kebangkrutan yang masif.

Jika pandangan suram tentang masa depan Amerika di atas semata-mata dari sisi ekonomi, maka pandangan suram dari sisi sosial budayanya tercermin dari kutipan berikut ini,

“Gambaran suram masyarakat Amerika dilukiskan oleh Alistair Cooke, penyiar veteran kelahiran Inggris, yang tinggal di AS selama bertahun-tahun. Masalah Amerika baginya semata-mata merupakan pembusukan moral: ‘Tingkat kejahatan di kota secara teratur melampaui semuanya. selain tahun sebelumnya yang paling buruk, dan kejahatan di jalanan secara acak di waktu malam menandingi peristiwa menonjol dalam buku harian abad kedelapan belas. Obat terlarang adalah hama yang menyerang semua kelas dari segala usia. Kita baru saja tersadar untuk mendapatkan bahwa sudah lama sekali, mungkin beberapa puluh tahun, pendidikan umum di Amerika telah menetapkan standar yang mudah dan membingungkan, sehingga, paling tidak dalam minoritas besar, mungkin mayoritas, tamatan sekolah menengah, kalau dibandingkan dengan sesamanya dari Eropa dan Asia, hanya setengah melek huruf.’

Alistair Cooke memerhatikan gejala lain dari keruntuhan budaya: penyalahgunaan kebebasan, kegagalan pengadilan menetapkan dan mengekang perbuatan tidak senonoh, kemerosotan tajam dalam sikap umum, dan lain-lain. Dia menyimpulkan bahwa akan ada titik balik sejarah yang besar, suatu akibat dramatis seperti Perang Saudara Amerika kedua, datangnya seorang diktator populis, atau kembalinya secara darurat ke bentuk sosialisme nasional yang menguntungkan ciptaan Franklin Roosevelt dalam New Deal pertama (kebijakan Presiden Roosevelt untuk mengatasi Depresi Besar pada 1930-an, penj.)”

Itu adalah komentar dari seorang yang hidup pada dekade 1990-an di Amerika. Sekarang tentu keadaannya sudah jauh lebih buruk lagi. Maka lengkap sudah semua syarat kehancuran Amerika: kemerosotan secara cepat dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan memerhatikan segenap tanda-tandanya, puncak musibah (baca: azab) yang mirip dengan Depresi Besar 1930 insya Allah akan terjadi lagi. Sebuah makalah dengan judul TOO

Jika segenap penyebab di atas belum memadai untuk membawa Amerika kepada kehancurannya, maka skenario berikut dapat menjadi skenario pamungkasnya. Sebagaimana dikemukakan banyak pengamat dari kalangan akademisi maupun lembaga penelitian lainnya, baik mewakili institusi maupun perorangan, kehancuran ekonomi Amerika yang dipicu oleh kehancuran pasar saham dapat terjadi akibat adanya perubahan pada struktur demografi masyarakat Amerika dikaitkan dengan sistem pensiun para pekerja. Bahkan tokoh “resmi” semacam Dr. Alan Greespan. yang menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika, telah menyatakan keprihatinannya yang mendalam akan persoalan ini dalam pidatonya pada 2 Desember 2005 mengenai kebijakan anggaran Amerika.

Data demografi Amerika menunjukkan, bahwa lebih dari 76 juta orang Amerika lahir antara 1946 dan 1964, yang oleh para ahli sosiologi disebut sebagai generasi “baby boomers” (bayi-bayi yang lahir pada era ledakan kelahiran pasca PD II). Para “baby boomers” itu kini berusia antara 43 dan 61 tahun. Mereka inilah yang membanjiri pasar kerja pada era 1970-an. Kemudian sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an, mereka ini pula yang banyak menanamkan investasinya di bursa saham.

Dalam beberapa tahun mendatang, generasi “baby boomers” ini akan mulai memasuki masa pensiun, sehingga mereka akan mulai mencairkan dana-dana pensiun mereka, yang berarti menutup investasi mereka di reksa dana, dan menyimpan dalam bentuk tabungan di bank. Bahayanya terletak pada kenyataan bahwa generasi “baby boomers” ini adalah kelompok populasi yang paling besar dan paling kaya di Amerika, sementara generasi berikutnya, yang berpotensi menggantikan generasi “baby boomers” sebagai investor di bursa saham, mempunyai jumlah yang lebih kecil dengan tingkat kekayaan yang lebih rendah. Lebih memperburuk keadaan adalah adanya “cacat” pada peraturan sistem dana pensiun Employment Retirement Income Security Act – ERISA, di mana setiap pensiunan yang telah menginjak usia 70 tahun “diwajibkan” mulai menarik dananya dari pasar saham, dengan cara menjual sahamnya setiap bulan.

Maka secara teoritis, mulai 2008 orang akan menyaksikan kecenderungan terjadinya lebih banyak transaksi menjual daripada membeli saham dan semakin bertambah nyata pada tahun-tahun berikutnya. Selang beberapa waktu kemudian orang akan memerhatikan bahwa indeks harga saham tidak akan bisa naik lebih jauh lagi, bahkan cenderung terus tertekan, akibat kecenderungan menjual saham lebih banyak daripada membeli. Lalu begitu tersadar, orang-orang akan berduyun-duyun menjual sahamnya.

Persoalannya, sebagaimana juga di negara-negara lain, bagian terbesar dari masyarakat Amerika adalah warga yang dididik untuk menjadi pekerja, bukan pengusaha. Para pekerja itu tetap saja merupakan orang-orang yang awam dalam bidang investasi di bursa saham. Sebagaimana orang awam lainnya, tindakan mereka sering bersifat emosional, “ikut-ikutan.” Jadi, jika suatu kali terjadi kondisi pasar saham yang “merosot,” mereka dapat menjadi sangat panik, lalu berusaha menjual secepat mungkin saham-saham mereka, dan yang lain pun akan segera mengikuti. Pasar saham bisa benar-benar hancur karenanya. Jika itu terjadi, para analis memperkirakan, ia akan menjadi “kehancuran pasar saham paling besar dalam sejarah peradaban manusia.”

Kini renungkanlah, jika para pengamat telah membuat prediksi yang sedemikian kelabu, tentu para investor telah membuat ancang-ancang jauh-jauh hari sebelumnya untuk segera menarik investasinya dari tanah Amerika. Seakan-akan, wallahua’lam, Allah telah membuat “rencana” yang akan memaksa para investor itu untuk menarik modalnya keluar dari Amerika. Seakan-akan semua jalan telah terkunci bagi Amerika untuk melepaskan dirinya dari bom waktu raksasa yang terbentuk tanpa mereka sadari dan melekat tepat pada jantungnya.

Namun, di balik semua kengerian yang hendak mencengkeram dunia, ada kabar gembira yang menjadi konsekwensi kehancuran barat dan Amerika. Kembalinya khilafah rasyidah yang sesuai dengan manhaj nubuwah yang akan memimpin dunia dengan keadilan dan kebenaran merupakan janji yang pasti.

Maka, buku ini juga mengupas secara padat dan tuntas generasi umat Islam yang akan muncul sebagai pemimpin dunia, menggantikan peranan Amerika dan Barat; siapa, kapan, karakteristik dan sifat keistimewaan, langkah-langkah perjuangan dan hasil-hasil yang akan mereka capai. Sebuah penjelasan yang lengkap, berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai tinjauan sejarah dan fakta-fakta terbaru yang valid. Sungguh sebuah kajian yang obyektif, ilmiah, menarik, dan sangat berani!


Pada situs Grandfather Economic Report, Michael W. Hodges, America’s Total Debt Report-Update 2007 US$ 48 Trillion and Soaring.

. Pada situs CNN Money edisi 24 September 2005.

[3].Pada situs Financial Sense Online, edisi 11 Oktober 2005, Jennifer Barry, America Sinking Below The Waterline.

. Pada situs India Infoline, edisi 3 Desember 2005, Greenspan warns on US budget deficit.

3 comments so far

  1. al-Qoshiduun on

    Wow.. bisa heboh tuh.. Beneran nich, kayaknya sich Si Amrik bakalan kolaps. Siapa jadi pengusung ideologi2 mereka siap-siaplah ikut2an ancur..

  2. Ahmad Bobby Yuskar on

    Alhamdulillah wa syukurillah wa Laa Illaha Illahu Alllahu Akbar!!!!!!!!!!!!

  3. Mpu Gondrong on

    Sepertinya bagus bukunya, ada versi e-booknya ndak ya? Ehem, kalo bisa sih gratisan, eheehehe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: