Dampak Kenaikan Harga Minyak Terhadap Perekonomian Amerika

Kenaikan harga minyak terutama disebabkan oleh semakin meningkatnya kebutuhan akan minyak, khususnya dipicu oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara kekuatan ekonomi baru seperti Cina dan India. Semakin bertambah penduduknya dan naik taraf hidupnya, semakin tinggi kebutuhannya akan energi, khususnya minyak bumi dan gas. Namun demikian, Amerika tetaplah faktor dominan tersendiri yang akan terus menyebabkan harga minyak merangkak naik.

Sebagaimana diketahui, pada masa awal pemerintahan Presiden Bush Jr. (2001), telah dibentuk Kelompok Pengembangan Kebijakan Energi Nasional yang diketuai Wakil Presiden Dick Cheney. Pada laporan yang disampaikan kelompok tersebut pada Mei 2001 seperti yang termuat di dalam situs internet Gedung Putih, disampaikan bahwa hingga 2020, konsumsi minyak Amerika akan meningkat sebesar 6 juta barrel per hari, sedangkan tingkat produksi dari ladang-ladang minyak di dalam negeri Amerika, dengan telah memperhitungkan kemungkinan penemuan ladang-ladang minyak baru di dalam negeri, akan menurun sebanyak 1,5 juta barrel per hari. Guna memenuhi kebutuhan minyak Amerika pada 2020, maka diperlukan impor minyak sebanyak 7,5 juta barrel per hari yang merupakan 70% dari kebutuhan minyak total Amerika (saat ini total impor minyak sekitar 58% dari kebutuhan total Amerika). Pada saat yang sama, pasokan minyak ke pasar dunia justru semakin menurun karena telah semakin mengeringnya sumur-sumur minyak di dunia, sedangkan cadangan lainnya banyak terdapat di laut dalam yang biaya eksploitasinya sangat mahal.

Dengan kondisi yang demikian kritis, kelompok pengkaji telah mengajukan sejumlah saran kepada Presiden Bush, yaitu, di antaranya, membuat prioritas pengamanan energi dalam kebijakan perdagangan dan luar negeri; menekankan pada pentingnya wilayah Georgia, Khazakastan, dan wilayah di sekitar Laut Kaspia lainnya; memaksimalkan eksplorasi dan produksi di negara-negara yang memiliki sumber minyak dan gas; menerapkan teknologi hemat energi.

Tentu saja para ilmuwan Amerika berusaha sekuat tenaga guna mencari energi pengganti minyak bumi. Mereka dapat saja membangun pusat listrik tenaga nuklir yang lebih aman, atau dengan teknologi batu bara yang lebih ramah lingkungan. Tetapi mereka tidak dapat menggunakannya bagi alat-alat transportasi yang justru banyak menyedot kebutuhan minyak bumi seperti mobil, pesawat terbang, dan alat transportasi lainnya. Maka kampanye penggulingan Taliban di Afganistan dan Saddam Hussein di Irak tak lepas dari kondisi kebutuhan energi di masa depan yang dihadapi Amerika ini, sebagai bagian dari strategi guna melanggengkan imperium Amerika.
Kenaikan harga minyak akan semakin meningkatkan laju inflasi yang telah bergerak naik dipicu ledakan kredit konsumtif, khususnya pada sektor perumahan (real estate). Di Amerika, guna meredam laju inflasi, Bank Sentral Amerika terpaksa menaikkan suku bunga agar uang yang beredar di masyarakat dapat terserap masuk ke dalam sistem perbankan. Kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral ini pada gilirannya akan diikuti dengan kenaikan kupon bunga dari surat-surat utang yang ditawarkan pemerintah Amerika kepada publik, sehingga menaikkan beban pengeluaran pemerintah sekaligus mengurangi kemanfaatan surat utang itu sendiri.

Selain itu, kenaikan suku bunga ini akan membuat orang mengejar/membeli mata uang dollar Amerika yang akan membuat dollar menguat terhadap mata uang negara-negara lain. Akibatnya, harga barang-barang produksi Amerika menjadi lebih mahal untuk di ekspor ke negara lain. Hasil akhirnya adalah semakin membengkaknya defisit perdagangan Amerika, yang hingga kini telah menyumbang lebih dari 80% dari defisit transaksi berjalan Amerika. Defisit perdagangan yang berkelanjutan akan semakin meningkatkan ketidakseimbangan / ketidakstabilan ekonomi Amerika, yang membuatnya semakin rentan terhadap perubahan-perubahan tiba-tiba/spekulasi yang dapat membawanya kepada kehancuran.

Kenaikan harga minyak tentu juga semakin memperbesar nilai impor minyak Amerika, yang membuat defisit perdagangan Amerika semakin membengkak pada skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah negara-negara modern (neraca perdagangan Amerika pada 2002: minus US$ 418 milyar; 2003: minus US$ 489,4 milyar; 2004: minus US$ 617,7 milyar; 2005: minus US$ 716,7 milyar; 2006: minus US$ 763,6 milyar)33, sehingga menambah ketidakseimbangan/ketidakstabilan perekonomian Amerika. Guna menyeimbangkan defisit perdagangannya, Amerika mempunyai pilihan dengan mendevaluasi nilai mata uangnya. Tetapi dengan telah nyaris lenyapnya basis industri manufakturing di Amerika, pilihan ini menjadi sangat tidak efektif, selain memang telah terbukti sepanjang sejarahnya bahwa devaluasi mata uang praktis tidak membantu memperbaiki defisit perdagangan Amerika yang terus membengkak. Selain itu secara alamiah nilai mata uang dollar memang cenderung terus terdepresiasi tanpa harus melakukan devaluasi.

Guna menekan defisit anggarannya, pemerintah Amerika dapat menaikkan pajak. Tetapi pilihan ini, sebagaimana diulas para pengamat ekonomi Amerika sendiri, dapat membuat ekonomi Amerika terpuruk ke dalam resesi. Pada kenyataannya, kebijakan yang diambil pemerintah Amerika justru melakukan pemotongan pajak.

Dikutip dari buku : Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa

Karangan : Abu Fatiah Al Adnani dan Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: