Archive for June, 2010|Monthly archive page

Misteri Zikir Akhir Zaman

Tak diragukan lagi bahwa zikir adalah modal utama dalam menjalankan tugas utama hidup kita, yaitu beribadah kepada Allah. Bahkan, inti seluruh ibadah adalah zikir : menyebut, mengingat, memahami, merenungkan, dan mengamalkan petunjuk Allah. Zikir adalah ibadah yang paling ringan dan murah. Zikir juga merupakan ibadah yang fleksibel, karena bisa dilaksanakan di semua tempat, waktu, dan keadaan. Oleh karenanya, ia adalah ibadah sepanjang hayat.

Kita sudah biasa mendengarkan ceramah atau membaca penjelasan bahwa doa dan zikir mendatangkan ketenangan jiwa, meninggikan derajat, menambah pahala, dan menggugurkan dosa. Tetapi, bagaimana dengan sejumlah hal ‘luar biasa’ berikut ini?

  • Tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir menjadi makanan dan minuman fisik saat kaum muslimin mengalami bencana kekeringan dan kelaparan ekstrim selama tiga tahun sebelum kemunculan Dajjal.
  • Tahlil dan takbir yang dikumandangkan 70.000 Bani Ishaq pasukan Al-Mahdi meruntuhkan benteng Konstantinopel di daratan, lautan, dan pintu gerbang kota.
  • Zikir dan doa sebagai modal kekuatan Dzul-Qarnain saat membangun benteng pembatas, juga sebagai modal kekuatan bangsa Ya’juj dan Ma’juj untuk melubangi dan meruntuhkan benteng pembatas tersebut, —dan ajaibnya, sebagai senjata Nabi Isa dan kaum muslimin untuk menewaskan dan sekaligus menguburkan bangsa Ya’juj dan Ma’juj. Padahal, semua penduduk bumi dan langit tidak mampu membendung kebrutalan dua bangsa perusak yang besar, kejam, dan tangguh itu!
  • Zikir dan doa menyelematkan pribadi dari pembantaian, mengokohkan pasukan Islam, memporak-porandakan pasukan musuh, dan mengantarkan prajurit muslim kepada mati syahid; terutama di masa kekacauan akhir zaman dan perjuangan Al-Mahdi-Nabi Isa untuk memakmurkan dunia dengan syariat Allah.
  • Zikir dan doa menghindarkan harta dan nyawa kaum muslimin dari bencana alam, di saat akhir zaman sering terjadi gempa bumi, hujan meteor, kegelapan pekat, dan pengubahan bentuk manusia. Bahkan, doa dan zikir bisa mengubah bencana menjadi sebuah berkah.
  • Zikir dan doa mengandung lima kekuatan dahsyat yang menyelamatkan kaum muslimin dari segala penyakit fisik, baik secara preventif maupun kuratif.
  • Doa dan zikir mengajarkan visi, misi, dan langkah-langkah operasionil yang harus ditempuh oleh kaum muslimin untuk mempertahankan iman, meningkatkan amal, menyusun fusthath iman (kelompok iman), dan membentenginya dari pengkhianatan dari dalam; manakala fitnah Duhaima’ —yang mengawali keluarnya Dajjal, telah datang menampar umat Islam.
  • Doa dan zikir mementahkan semua tipu daya, kepalsuan, dan kekuatan Dajjal. Padahal, Dajjal membawa sungai air dan api, juga gunung roti; mampu memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan bumi untuk menumbuhkan tanaman; bahkan menghidupkan kembali beberapa orang yang telah mati.
  • Doa dan zikir mendatangkan kemulian bagi seorang muslim untuk ikut menyambut turunnya Nabi Isa dari langit, mendapat stempel keimanan dari binatang yang bisa berbicara, dan menggapai taubat sebelum matahari terbit dari arah barat.

Dengan metode tadabur dan tafakur, buku Misteri Zikir Akhir Zaman mengajak Anda untuk menyelami dan menghayati kedalaman makna plus kedahsyatan energi doa ilahi dan zikir nabawi, selanjutnya mengaktualisasikannya untuk menghadapi berbagai huru-hara dan tanda-tanda besar kiamat di akhir zaman.

Advertisements

Kisah Sedih dari Jabaliyah (mengenang potongan tragedi kemanusiaan di bumi Palestina)

“Oh, Rabb! Saya tidak pernah melihat pemandangan mengerikan seperti ini.” Kata Abu Aukal, sambil menangis tersedu-sedu.

Abu Aukal adalah seorang dokter. Bertugas di bagian gawat darurat, dia telah terbiasa menangani korban terluka maupun tewas akibat agresi Israel di jalur Gaza, dalam berbagai kondisi. Tapi, tidak untuk yang satu ini. Dia hampir tak mempercayai apa yang dilihatnya.

Beberapa hari lalu, di kamp pengungsian Jabaliyah, yang terletak di bagian utara Gaza City, tak jauh dari pintu perbatasan Erez, seorang bocah perempuan, Shahd (4 tahun), sedang bermain di halaman belakang rumahnya. Tiba-tiba, tentara Zionis Israel menyerang dan menembak membabi-buta. Bocah gemuk yang lucu itu bersimbah darah.

Melihat anaknya tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan, kedua orang tuanya buru-buru mengulurkan tangan hendak meraihnya. Tapi, serdadu Israel mengusirnya dengan hujan peluru. Kedua orang tua itu pun meninggalkan tempat itu, sementara anaknya masih tertidur di sana: entah sedang sekarat, entah sudah tewas.

Rupanya tentara Israel yang selalu membawa anjing pelacak saat melakukan serangan darat ke Jalur Gaza, memang punya maksud tertentu dengan tindakannya itu. Jenazah Shahd sengaja dibiarkan tergeletak di halaman terbuka itu untuk (maaf) dijadikan santapan anjing.

“Anjing-anjing itu meninggalkan satu bagian utuh tubuh bayi malang itu,” kata Abu Aukal, dengan air mata berderai, saat menuturkan cerita tragis itu, seperti dikutip islamonline, kemarin.

“Kami melihat pemandangan memilukan selama 18 hari terakhir (agresi Israel). Kami mengangkat mayat anak-anak yang tercabik atau terbakar. Tapi, tak ada yang seperti ini,” kata Abu Aukal.

Berhari-hari saudara Shahd, Matar, dan sepupunya, Muhammad, mencoba meraih tubuh gadis itu, tapi sia-sia. Lagi-lagi, tentara pendudukan Israel menggunakan bahasa tembakan untuk mengusir kedua bocah itu.

Tapi, melihat tubuh Shahd yang terus dicabik anjing dari hari ke hari, Matar dan Muhammad tak tahan. Pada hari kelima, keduanya nekat mendekati tubuh Shahd yang masih tersisa untuk dibawa pulang. Belum lagi keduanya meraih tubuh Shahd, tentara Israel menghujani dengan tembakan. Keduanya tewas.

Omran Zayda, tetangga Shahd, menilai tentara Israel sangat mengetahui apa yang mereka lakukan. “Mereka (tentara Israel-Red) menghalau dan mencegah keluarga yang ingin mengambil mayat (Shahd), karena mengetahui anjing-anjing mereka akan memakannya,” katanya.

Apa yang terjadi pada Shahd, kata Zayda, tak bisa digambarkan dengan kata-kata, tidak pula rekayasa kamera. “Anda tidak akan pernah membayangkan apa yang telah dilakukan anjing-anjing itu kepada tubuh anak tak berdosa itu,” kata pria itu sambil menahan air matanya.

Zaydan menambahkan, “Mereka bukan hanya membunuh anak-anak kami. Mereka juga melakukan tindakan yang sangat keji dan tak berperikemanusiaan,” Continue reading

Tragedi Ukhuwah di Zaman Fitnah (sebuah pengantar)

Bukankah hal aneh jika seorang pencuri, perampok dan penjahat malah dinobatkan menjadi penjaga keamanan? Tapi itu belum seberapa , yang lebih aneh lagi, ternyata yang dicuri malah dituduh sebagai penjahat!!

Melongok ke dalam tanah-tanah kaum muslimin yang sedang “terpenjara” dalam rumah mereka sendiri. Mereka terkurung di dalam negeri yang notabene milik mereka sendiri. Anehnya bangsa yang menjajah mereka malah direstui oleh seluruh dunia. Dinobatkan sebagai “pasukan penjaga perdiaman”. Sedangkan bangsa yang dijajah, yang harta bendanya dimusnahkan, wanita-wanita mereka ternoda, melakukan perlawanan dengan batu, akan segera tercap sebagai teroris. Aneh?

Tengoklah ke Palestina. Hadiah natal di akhir tahun 2008 dan awal tahun baru 2009 untuk warga Israel adalah banjir darah di Palestina. Ratusan tank dan misil termuntahkan ke perkampungan padat penduduk di gaza. Ratusan ton bom-bom pembunuh massal juga tak segan menyayat kulit dan menghancurkan tulang setiap orang yang ditemuinya. Sungguh pembantaian telanjang mata yang dipertontonkan kepada dunia. Tapi aneh bagaimana dunia menyikapinya? Dingin! Mereka menyikapi dengan dingin!! Di satu sisi, saat mereka mempertahankan diri dari gempuran seperti itu dengan batu dan roket kecil, dunia langsung sontak memvonis itu perbuatan teroris. Sungguh aneh bukan?

Sebenarnya masalah Palestina dan dunia Islam lain yang mengalami penjajahan tidaklah seperti yang media barat beritakan. Banyak kejahatan-kejahatan Barat dan Israel lakukan tanpa diketahui oleh media Barat.

Inilah masalah umat Islam yang harus dicari jalan keluarnya. Bukan malah mendiamkannya sebagaimana negara-negara Arab mendiamkan Palestina menjadi rongrongan Israel.

Tragedi Ukhuwah di Zaman Fitnah

“Perumpamaan orang mukmin di dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit maka seluruh jasad merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (Al-Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir ra)

Makhluk-makhluk kafir “sebangsa” manusia yang biadab dan licik tak henti-hentinya mempertontonkan kebiadaban, teror, dan penjajahan atas hamba-hamba Allah yang lemah dan miskin. Anehnya, saat hamba-hamba yang lemah tersebut hendak membela nyawa, harta, kehormatan, agama, dan tanah airnya, kekejaman dan teror makhluk-makhluk kafir “sebangsa” manusia tersebut justru bertambah keras dan buas. Bangsa-bangsa yang mengaku beradab bertepuk tangan menyaksikan tontonan di panggung politik dunia tersebut, sementara pemilik kekuasaan dan materi di antara hamba-hamba yang lemah justru ikut menyematkan penghargaan kepada aktor-aktor biadab. Di berbagai belahan dunia, nasib hamba-hamba Allah yang lemah berada di bibir jurang kebinasaan. Inilah seruan ukhuwah di era hegemoni FITNAH, saat pihak-pihak yang kuat memangsa pihak-pihak yang lemah!